KEDUNGBANTENG – Pendidikan bukan hanya soal mentransfer ilmu pengetahuan di dalam kelas, melainkan juga tentang menuntun jiwa. Di SMP Negeri 4 Kedungbanteng, tantangan dalam mendidik anak dengan kemampuan belajar yang beragam (slow learning) dijawab dengan pendekatan yang mengedepankan sisi emosional dan penguatan nilai-nilai keagamaan.
Tantangan: Membimbing dengan
Kesabaran Ekstra
Setiap anak lahir dengan
keunikannya masing-masing. Di sekolah ini, Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK)
menghadapi tantangan khusus dalam membimbing murid-murid kategori slow
learning. Kelompok siswa ini memerlukan perhatian dan kerja keras ekstra
agar dapat mengikuti ritme pendidikan dengan baik.
Selain tantangan akademis, pihak
sekolah juga menemukan bahwa sebagian murid masih belum terbiasa atau belum
mampu melakukan praktik ibadah harian seperti tahlilan dan doa bersama secara
mandiri. Hal ini menjadi perhatian serius, mengingat pentingnya pondasi
spiritual dalam pembentukan karakter remaja.
Langkah Penyelesaian: Edukasi
Berbasis Kasih Sayang dan Praktik Rutin
Menyikapi hal tersebut, SMP
Negeri 4 Kedungbanteng mengambil dua langkah strategis yang berjalan
beriringan:
- Pendekatan Emosional yang Mendalam: Pihak
sekolah tidak menuntut hasil instan secara akademis. GTK memberikan
penjelasan materi pelajaran dengan metode yang lebih personal dan
mendalam, disesuaikan dengan kondisi emosional masing-masing siswa.
Pendekatan ini bertujuan agar siswa merasa dihargai, sehingga motivasi
belajar mereka tumbuh dari dalam hati.
- Pembiasaan Tradisi Spiritual: Untuk
mengatasi ketidaktahuan dalam hal doa, lingkungan warga sekolah secara
rutin mengadakan kegiatan tahlil bersama. Siswa tidak hanya
diajarkan teori, tetapi langsung dilibatkan dalam praktik doa bersama dan
tahlilan di lingkungan sekolah. Kegiatan ini dilakukan secara berulang
untuk membangun memori dan pemahaman yang kuat pada diri siswa.
Hasil: Menuju Generasi yang
Sholeh, Sholehah, dan Cerdas
Hasil dari kesabaran dan
konsistensi ini mulai membuahkan buah yang manis di awal tahun 2026 ini.
Perubahan signifikan terlihat pada perilaku dan spiritualitas siswa:
- Peningkatan Akhlak: Murid-murid kini
menjadi pribadi yang lebih penurut dan santun kepada guru serta sesama
rekan.
- Kecerdasan Spiritual: Melalui
pembiasaan rutin, para siswa kini mampu mengikuti tahlilan dan doa bersama
dengan lancar. Hal ini secara tidak langsung meningkatkan kepercayaan diri
mereka.
- Keseimbangan Karakter: Murid-murid SMPN
4 Kedungbanteng tumbuh menjadi pribadi yang lebih "cerdas" dalam
arti luas—tidak hanya soal angka di atas kertas, tetapi juga cerdas dalam
emosi dan spiritual.
"Kami percaya bahwa setiap
anak memiliki pintu masuknya masing-masing. Dengan sentuhan kasih sayang dan
bimbingan spiritual seperti tahlilan ini, murid-murid kami yang tadinya butuh
waktu lebih lama dalam belajar, kini justru menunjukkan kemajuan karakter yang
sangat membanggakan," ungkap salah satu guru pembimbing.
Keberhasilan ini membuktikan
bahwa dengan ketulusan GTK, SMP Negeri 4 Kedungbanteng sukses mencetak generasi
yang tidak hanya unggul secara kognitif, tetapi juga kokoh secara iman.
Saran Publikasi:

Belum ada tanggapan untuk "Menyentuh Hati, Membangun Karakter : Transformasi Murid SMPN 4 Kedungbanteng Melalui Pendekatan Spiritual."
Posting Komentar