KEDUNGBANTENG –
Lingkungan sekolah yang tenang dan kondusif adalah kunci kenyamanan belajar.
Menanggapi fenomena banyaknya murid putri yang sering berteriak-teriak secara
spontan di area sekolah, SMP Negeri 4 Kedungbanteng mengambil langkah kreatif
untuk mengarahkan luapan emosi remaja tersebut menjadi kegiatan yang jauh lebih
positif dan produktif.
Masalah: Fenomena Ekspresi
yang Kurang Tepat
Belakangan ini, suasana di
lingkungan SMPN 4 Kedungbanteng sering kali riuh oleh suara teriakan para siswi
saat jam istirahat maupun setelah pulang sekolah. Secara psikologis, di usia
remaja, hal ini sering kali merupakan cara mereka untuk melepas penat atau
mengekspresikan diri. Namun, jika tidak diarahkan, kebiasaan ini dapat
mengganggu ketertiban dan citra sekolah yang tenang.
Langkah Penyelesaian: Memberi
Ruang dan Edukasi Ekspresi
Pihak sekolah menyadari bahwa
melarang secara keras bukanlah solusi yang efektif. Sebaliknya, sekolah memilih
pendekatan yang lebih humanis.
- Edukasi Ekspresi Diri: Guru dan
pembimbing memberikan pengertian kepada para siswi mengenai pentingnya
menyalurkan energi dan emosi melalui bakat serta kemampuan yang dimiliki.
Siswi diajak untuk memahami bahwa energi yang meluap dapat menjadi aset
yang berharga jika digunakan pada tempat yang tepat.
- Sesi "Ngobrol dan Nyanyi Bareng": Sebagai
terobosan, SMPN 4 Kedungbanteng menghadirkan kegiatan tambahan setelah jam
pelajaran selesai. Kegiatan ini dirancang secara santai sebagai wadah bagi
murid putri untuk mengobrol (curhat) bersama guru pendamping dan menyanyi
bersama. Ruang ini menjadi tempat bagi mereka untuk menyalurkan ekspresi
mereka secara teratur.
Hasil: Menemukan Cara
Berekspresi yang Positif
Transformasi ini membuahkan hasil
yang luar biasa. Murid-murid putri kini merasa lebih bahagia karena merasa
didengar dan memiliki ruang khusus untuk mengekspresikan diri mereka. Kegiatan
ini membantu para siswi menemukan cara yang lebih positif untuk menyalurkan
energi mereka.
"Kami sangat senang,
sekarang ada waktu khusus buat nyanyi bareng teman-teman. Rasanya lebih lega
daripada teriak-teriak tidak jelas," ungkap salah satu murid putri dengan
bangga.
Dengan adanya kegiatan ini,
tingkat kegaduhan yang tidak perlu di lingkungan sekolah menurun drastis. SMP
Negeri 4 Kedungbanteng berhasil membuktikan bahwa dengan arahan yang tepat,
kebiasaan yang kurang tepat dapat diubah menjadi potensi ekspresi diri yang
positif.
Saran: Artikel ini
sangat bagus diunggah di blog sekolah atau buletin dinding. Sebagai tambahan
literasi seni bagi siswa, Anda bisa merujuk pada artikel mengenai pengembangan
bakat di laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Belum ada tanggapan untuk "Dari Teriakan Menjadi Nyanyian: Cara SMPN 4 Kedungbanteng Mengubah Energi Siswi Menjadi Prestasi."
Posting Komentar