Lahaula Walaquwwata illabillah, dengan senyum hangat "Mengejar Matahari"
BANYUMAS – Bagi sebagian orang, perjalanan jauh menuju tempat kerja adalah sebuah beban. Namun, bagi Cipto Waluyo, S.AP., S.Pd., setiap kilometer yang ditempuhnya adalah bentuk ibadah dan pengabdian tanpa batas. Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) di SMP Negeri 4 Kedungbanteng ini memiliki kisah unik yang menginspirasi: ia selalu "mengejar matahari" setiap kali berangkat dan pulang kerja.
Setiap pagi, tepat pukul 06.00 WIB, saat matahari mulai beranjak dari ufuk timur, Cipto Waluyo, S.AP., S.Pd sudah bersiap di atas sepeda motornya. Ia harus menempuh perjalanan hampir 1 jam dari rumahnya di Desa Jingkang, Kecamatan Ajibarang, menuju sekolah tempatnya mengabdi di Komplek Rest Area Batur Agung, Desa Baseh, Kecamatan Kedungbanteng. Karena berkendara ke arah timur di pagi hari, pancaran sinar surya pagi selalu menemaninya sepanjang jalan. Ia benar-benar mengejar matahari terbit.
Sore harinya, setelah jam kerja usai sekitar pukul 15.30 WIB, rutinitas itu berbalik. Cipto Waluyo, S.AP., S.Pd harus memacu kendaraannya kembali ke arah barat untuk pulang ke rumah. Sekali lagi, selama hampir 1 jam perjalanan, ia berhadapan langsung dengan matahari sore yang mulai tenggelam.
"Berangkat mengejar matahari terbit, pulang mengejar matahari terbenam. Meski jaraknya jauh, saya berusaha menikmati setiap perjalanannya. Walaupun tidak bisa dipungkiri, terkadang sampai di rumah badan terasa letih dan lunglai," ungkap Cipto Waluyo, S.AP., S.Pd dengan senyum hangat.
Jejak Panjang Sang Pengabdi
Perjalanan jauh yang dilakoni Cipto Waluyo, S.AP., S.Pd saat ini di SMP Negeri 4 Kedungbanteng merupakan puncak dari estafet pengabdiannya yang panjang di dunia pendidikan Kabupaten Banyumas. Jarak tempuh kerjanya terus bertambah seiring berpindahnya tugas dari tahun ke tahun:
- SMP PGRI 2 Ajibarang : Tempat kerja pertama yaitu 01 Maret 2006 yang sangat dekat, hanya butuh waktu 5 menit perjalanan.
- SKB Ajibarang: Mulai menguji ketahanan dengan waktu tempuh sekitar 15 menit.
- SMP Ma'had Darussa'adah Cilongok / SMP ini berbasik Ponpes Darussa'adah, Gununglurah (Cilongok) : Perjalanan semakin menantang, memakan waktu sekitar 25 menit.
- SMP Negeri 2 Wangon : Setelah diangkat menjadi ASN Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K), ia ditempatkan di sekolah yang berjarak 30 menit dari rumahnya.
- SMP Negeri 4 Purwokerto : Mutasi berikutnya membawa Cipto Waluyo, S.AP., S.Pd menempuh perjalanan sekitar 35 menit.
- SMP Negeri 4 Kedungbanteng : Tempat mengabdi saat ini, dengan rekor perjalanan terjauh mencapai 50 menit hingga hampir 1 jam setiap sekali jalan.
Sebagai guru olahraga, stamina fisik Cipto Waluyo, S.AP., S.Pd memang diuji bukan hanya di lapangan saat mengajar murid-muridnya, tetapi juga di jalan raya raya. Dedikasi tinggi yang ditunjukkan oleh Cipto Waluyo, S.AP., S.Pd menjadi bukti nyata bahwa bagi seorang guru, jarak bukanlah penghalang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Di bawah terik matahari pagi dan sore Banyumas, ia terus melaju demi masa depan generasi muda.

Belum ada tanggapan untuk "Kisah Cipto Waluyo : Guru PJOK yang Selalu "Mengejar Matahari" demi Mengabdi"
Posting Komentar