![]() |
| Suatu pagi perjalanan kerja, Mega Pro Hiu as roda lepas dan roda dalem putus demi bisa kerja. |
Memulai
hari dengan rutinitas yang padat memerlukan komitmen yang luar biasa, terutama
ketika harus menyeimbangkan kewajiban spiritual dan tanggung jawab profesional.
Setiap pagi, sebuah perjalanan sepanjang 25 kilometer membentang dari Jingkang
Ujung, Kecamatan Ajibarang, menuju Baseh Ujung, Kecamatan Kedungbanteng. Jarak
ini mungkin terdengar biasa bagi sebagian orang, namun medan jalan yang berliku
dan kondisi lalu lintas membuat perjalanan ini memakan waktu setidaknya satu
jam perjalanan penuh.
Tantangan
terbesar bukanlah pada jaraknya, melainkan pada keterbatasan waktu yang sangat
ketat. Di satu sisi, perjalanan kerja menuntut keberangkatan paling lambat
pukul 06.00 WIB agar tidak terlambat tiba di tempat tugas. Di sisi lain, ada
rangkaian ibadah spiritual yang tidak boleh ditinggalkan. Pagi hari harus
diawali dengan ibadah salat Subuh berjamaah di Masjid Baitul Khikmah, yang
kemudian langsung dilanjutkan dengan mengikuti ngaji kitab rutinan kuliah subuh
di Pondok Pesantren Al Muhajirin. Kegiatan keagamaan ini baru selesai mendekati
pukul 06.00 WIB.
Kondisi
ini menyisakan waktu yang sangat sempit untuk bersiap dan melakukan perjalanan.
Namun, keterbatasan waktu tersebut tidak memadamkan semangat untuk tetap
berangkat bekerja. Dengan sisa waktu yang mepet, sepeda motor Honda Mega Pro
Hiu menjadi andalan utama. Motor sport legendaris ini dipacu dengan cepat demi
mengejar ketertinggalan waktu melintasi rute berliku di lereng perbukitan.
Kecepatan
tinggi di jalanan yang menantang tentu membawa risiko tersendiri. Dalam sebuah
perjalanan, sebuah insiden tak terduga terjadi akibat beban kerja kendaraan
yang dipacu maksimal. Ban motor tiba-tiba terlepas sendiri dari posisinya
hingga robek di tengah jalan. Insiden ini sempat menghambat perjalanan dan
menguji kesabaran, namun untungnya tidak menyurutkan motivasi untuk tetap
sampai ke tujuan.
Melihat
perjuangan berat yang konsisten dilakukan setiap hari, rekan-rekan kerja dan
teman terdekat memberikan apresiasi yang tinggi. Mereka menilai bahwa
konsistensi menyeimbangkan waktu mengaji dan bekerja di tengah risiko
perjalanan tersebut merupakan wujud nyata dari seorang pekerja yang berdedikasi
tinggi. Pengorbanan fisik, waktu, dan kendaraan menjadi bukti bahwa semangat
pengabdian tidak goyah oleh jarak dan rute yang berliku.

Belum ada tanggapan untuk "Perjuangan Menembus Batas Waktu: Dedikasi Tanpa Batas dari Jingkang ke Baseh"
Posting Komentar