Profesi Pjok namun seneng ngaji di MA Manusaci
Bagi sebagian orang, sosok guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) identik dengan peluit, lapangan, dan pakaian olahraga. Namun, stereotip itu runtuh ketika melihat sosok Ust. Muh Cipto Waluyo, S.AP., S.Pd. Beliau adalah seorang guru olahraga di SMP Ma’had Darussa’adah Cilongok yang ternyata merupakan seorang pengasuh pesantren sekaligus pecinta literasi kitab suci dan hobi ngaji.
Kisah inspiratif dan tak terlupakan ini terjadi pada tahun 2020, dalam gelaran Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di MA Ma’arif NU 1 Cilongok. Sebuah momen darurat yang justru melahirkan cerita indah penuh berkah dan gelak tawa.
Drama Satu Jam Sebelum Acara
Acara maulidan rutinan yang digelar oleh MA Ma’arif NU 1 Cilongok awalnya didesain sedemikian rupa dengan mengundang penceramah kondang, Kyai Sukhemi dari Ponpes Al Ikhlas, Desa Gununglurah. Panitia dan ratusan santri serta siswa sudah bersiap menyerap ilmu agama dari beliau.
Namun, manusia hanya bisa berencana. Tepat satu jam sebelum acara dimulai, sebuah kabar mengejutkan datang dari panitia. Kyai Sukhemi mengabarkan bahwa beliau mendadak berhalangan hadir karena ada urusan sangat mendesak (urgent) yang tidak bisa ditinggalkan. Kepanikan sempat melanda ruang panitia. Bagaimana mungkin mencari pengganti penceramah dalam waktu sependek itu?
Solusi Dadakan di Tengah Lapangan Olahraga
Di tengah situasi genting tersebut, nama Ust. Muh Cipto Waluyo muncul sebagai juru selamat. Masalahnya, beliau saat itu sedang tidak bersiap-siap memakai baju koko atau jubah pengetuk mimbar. Beliau justru sedang bercucuran keringat, menjalankan tugas utamanya mengajar olahraga di SMP Ma’had Darussa’adah Cilongok.
Mendapat undangan yang sangat mendadak dari Ponpes Al Muhajirin, Desa Jingkang (pesantren yang diasuhnya), Ust. Cipto tidak berpikir panjang. Mengingat esensi acara adalah mengaji, mencari keberkahan ilahi, menyambung tali silaturahim, serta niat tulus menolong sesama agar acara syiar Islam tersebut tidak batal, beliau langsung mengiyakan.
Tanpa sempat pulang untuk berganti pakaian formal layaknya kiai pada umumnya, Ust. Cipto langsung meluncur ke lokasi acara.
Naik Panggung dengan Celana Silat dan Jaket
Pemandangan unik pun terjadi. Ratusan pasang mata di MA Ma’arif NU 1 Cilongok terkesima melihat penceramah mereka naik ke atas panggung dengan bercelana olahraga silat dan dibalut jaket. Penampilan yang sangat kasual untuk sebuah acara keagamaan besar, namun di situlah letak keikhlasan seorang guru sekaligus santri. Bagi Ust. Cipto, pakaian hanyalah bungkus, sementara esensi tholabul ilmi (mencari ilmu) berada di dalam hati.
Begitu memegang mikrofon, suasana tegang langsung mencair. Mengandalkan pembawaannya yang khas—kombinasi antara kedalaman ilmu mengaji dan bakat ndagel (melucu) khas pesantren—Ust. Cipto berhasil membius seluruh audiens.
Suasana Menyenangkan Penuh Berkah
Alih-alih canggung karena salah kostum, Ust. Cipto justru memanfaatkan penampilannya sebagai bahan guyonan segar yang kontekstual. Gaya ceramahnya yang interaktif membuat para siswa dan guru tidak mengantuk, melainkan antusias menyerap pesan-pesan maulid tentang keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Suasana mendengarkan ceramah agama berganti menjadi ruang belajar yang sangat menyenangkan. Semua yang hadir pulang dengan membawa senyuman sekaligus ilmu yang bermanfaat.
Kisah Ust. Muh Cipto Waluyo di MA Ma’arif NU 1 Cilongok tahun 2020 ini menjadi bukti nyata bahwa seorang pejuang ilmu sejati tidak akan pernah terhalang oleh keadaan. Ketika panggilan dakwah dan niat menolong sesama datang, pakaian olahraga pun bisa menjadi saksi bisu turunnya keberkahan ilahi di atas panggung maulid.
.png)
Belum ada tanggapan untuk " Guru PJOK Bersarung, dari Lapangan Langsung Naik Panggung Maulid"
Posting Komentar